Hello teman-teman...
Selamat libur panjang ya... dan selamat Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakannya. Untuk memperingati hari ini, kami modifikasi header kami dengan wool, hehe...
Ini adalah weblog dari Migomagi Brand, dan telah berganti URL. Masih dalam perbaikan dalam jangka waktu yang tidak akan lama lagi :D
Hello teman-teman...
Selamat libur panjang ya... dan selamat Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakannya. Untuk memperingati hari ini, kami modifikasi header kami dengan wool, hehe...
Senang sekali menyambut penghuni baru di headquarter kami (hehe... headquarter?), sebuah meja afdruk atau dalam bahasa inggrisnya exposure table.
Meja afdruk ini adalah salah satu dari peralatan yang sedang kami siapkan keberadaannya disini untuk mendukung riset dan pengembangan (walah... apalagi coba nih riset dan pengembangan? huhuhu...), ya supaya kami bisa segera bereksperimen, men-trial error produk-produk yang akan kami luncurkan, terutama produk yang menggunakan aplikasi silk-screen/sablon. Hmmh... semoga saja segera selesai ya...
Untuk melihat foto yang lainnya silakan meluncur ke halaman flickr kami.
Woww, satu lagi temuan unik kami di jalan, pengendara skuter telah melapisi seluruh body tunggangannya dengan kain (entah apa), full body, bahkan pada detail yang masih mungkin dilapisi, tidak ada yang terlewat. Tapi sayang kami tidak sempat bertemu dengan pemiliknya untuk (paling tidak) bertanya apakah boleh motornya kami bawa pulang.. hehehe... Skuter ini secara kebetulan diparkir dan mencuri perhatian kami di salah satu terminal bus di Bandung, Leuwi Panjang. Bagi yang tahu siapa pemiliknya silakan hubungi kami di e-mail: migomagi@gmail.com
Ada yang tahu kain apakah yang melapisi seluruh body skuter ini?







Mungkin ini adalah objek wisata yang paling unik (atau aneh?), terletak di Central Otago Selandia Baru, beberapa penduduk lokal disana memang memuji, tetapi banyak juga yang tidak suka.



Sudah pasti ini adalah hasil dari perkembangan zaman yang semakin hari semakin canggih dan semakin serba komputerisasi, bagi yang belum tahu, inilah kamuflase digital, atau Digital Pattern, atau Digicammies, sebuah penemuan baru dalam teknologi kamuflase militer.
Berbeda dengan pattern kamuflase pada awal penggunaannya yang menerapkan komposisi gambar bergumpal, pada pattern kamuflase digital, susunannya dibangun dengan kumpulan pixel (kotak) yang terkomposisi secara kompleks. Alasan dibalik penggunaan pixel ini bukan (saja) berhubungan dengan perkembangan digital, tetapi rupanya karena menurut teori hal ini lebih efektif dibanding dengan pattern kamuflase yang standar. Pattern pixel ini dapat lebih menirukan tekstur dan garis-garis kasar yang ada di lingkungan asli, hal ini disebabkan oleh bagaimana mata manusia bekerja dengan gambar pixel.
Contoh perbandingan Pattern Woodland Amerika yang standar dan digital
Negara pertama yang mengadaptasi kamuflase digital ini adalah Canada (1996) yang dinamakan CADPAT kependekan dari Canadian Disruptive Pattern, kemudian diikuti oleh Amerika (MARPAT-Marine Pattern) dan seterusnya oleh Finlandia, China, lalu Jordania. Tetapi menurut sumber yang kami temukan (disini) rupanya beberapa dekade sebelumnya, digital pattern ini sudah pernah dikembangkan oleh Timothy R. O’Neill dan bahkan pernah digunakan oleh tentara Amerika pada kisaran tahun 1978 di Eropa, hanya saja setelah itu menghilang, karena pada waktu itu sulit sekali meyakinkan orang-orang awam bahwa kamuflase digital lebih efektif, hal ini disebabkan oleh persepsi mereka (orang awam) tentang alam (maksudnya, "Alam kan sangat tidak kotak-kotak, lalu kenapa harus dikamuflse dengan gambar yang sangat kotak-kotak?").

Contoh penggunaan Digicammies atau Digital Pattern di lapangan
Itulah profil singkat tentang digital Comuflage, dan berikut adalah gambar-gambarnya:
Digital Pattern Kanada (CADPAT)
Digital Pattern Amerika gurun (MARPAT desert)
Digital Pattern Jordania (Urban Pattern)
Tetapi, secanggih apapun teknologi kamuflase yang dikembangkan kini dan nanti, menurut kami tetap saja ini adalah sebuah ironi, bahwa tenaga dan pikiran beberapa manusia dicurahkan untuk memfasilitasi peperangan, mengakali agar pihak satu lebih sedikit terbunuh daripada pihak lawannya, dan bahwa teknologi ini digunakan untuk saling membunuh. Bagaimana menurut kamu?
hmmm... Semoga tidak terus menerus. Amin...